
Menjadi orang Bali di Jepang bukan hanya soal pindah negara. Ini tentang menjalani hidup di dua dunia yang berbeda, sambil terus bertanya pada diri sendiri: saya sebenarnya pulang ke mana?
Di satu sisi ada Jepang, dengan segala keteraturannya.
Di sisi lain ada Bali, dengan akar, adat, dan keluarga yang tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan.
Rindu Kampung Tidak Pernah Benar-Benar Hilang
Orang sering mengira rindu kampung hanya muncul di awal merantau. Nyatanya, semakin lama tinggal di Jepang, rindu itu justru berubah bentuk.
Bukan lagi rindu pantai atau makanan, tapi:
- suara gamelan saat upacara
- obrolan santai di bale
- kebiasaan berkumpul tanpa rencana
- perasaan “dianggap ada” oleh lingkungan
Di Jepang, hidup rapi dan tenang. Tapi sunyi sering datang tanpa diundang.
Hidup Teratur, Tapi Hati Harus Kuat
Jepang mengajarkan hidup disiplin. Semua ada aturannya.
Bangun pagi, kerja tepat waktu, pulang sesuai jadwal, ulang lagi keesokan hari.
Untuk orang Bali yang terbiasa hidup lebih fleksibel dan komunal, ritme ini bisa terasa kaku. Namun lama-lama, kita belajar: hidup teratur menuntut mental yang kuat.
Tidak banyak tempat untuk mengeluh.
Tidak semua perasaan bisa diceritakan.
Tanggung Jawab Tidak Pernah Ikut Libur
Salah satu hal terberat menjadi orang Bali di luar negeri adalah tanggung jawab yang tetap melekat, meski jarak ribuan kilometer.
Upacara keluarga, kewajiban adat, dan harapan orang tua tidak hilang hanya karena kita tinggal di Jepang. Kadang muncul rasa bersalah:
- tidak bisa hadir saat keluarga membutuhkan
- hanya bisa membantu lewat uang
- tidak selalu pulang saat diharapkan
Di titik ini, banyak orang Bali di Jepang hidup dalam dilema:
bertahan demi masa depan, atau pulang demi kewajiban?
Di Jepang Bukan Sepenuhnya Jepang, di Bali Bukan Sepenuhnya Bali
Setelah bertahun-tahun, identitas mulai berubah.
Pola pikir Jepang masuk, cara hidup Bali tetap tinggal.
Saat pulang ke Bali:
- kita dianggap terlalu kaku
- terlalu tepat waktu
- terlalu pendiam
Saat di Jepang:
- kita tetap dianggap orang asing
- logat tidak sempurna
- budaya berbeda
Akhirnya, kita hidup di tengah.
Tidak sepenuhnya milik dua-duanya.
Belajar Menjadi Kuat dalam Diam
Orang Bali terbiasa mengekspresikan emosi.
Orang Jepang terbiasa menyimpannya.
Di Jepang, saya belajar satu hal penting:
tidak semua rasa harus diucapkan, tapi semua rasa harus dikelola.
Diam bukan berarti kalah.
Menahan bukan berarti lemah.
Jepang Mengajarkan Bertahan, Bali Mengajarkan Makna
Jepang mengajarkan cara bertahan hidup:
- bekerja keras
- disiplin
- mandiri
Bali mengajarkan makna hidup:
- kebersamaan
- spiritualitas
- keseimbangan
Orang Bali di Jepang hidup dengan dua pelajaran ini sekaligus. Berat, tapi berharga.
Penutup
Menjadi orang Bali di Jepang bukan cerita tentang sukses atau gagal.
Ini cerita tentang bertahan, beradaptasi, dan tetap mengingat asal-usul.
Rindu kampung mungkin tidak pernah hilang.
Tanggung jawab mungkin tidak pernah ringan.
Tapi di antara keduanya, kita belajar menjadi manusia yang lebih kuat, lebih sadar, dan lebih menghargai hidup.