Kerja di Jepang Itu Tidak Seindah Drama, Ini Kenyataannya


 Banyak orang mengenal Jepang dari drama dan video singkat di media sosial. Kantor rapi, rekan kerja sopan, gaji besar, hidup teratur. Dari layar, semuanya tampak tenang dan menjanjikan.

Tapi setelah benar-benar bekerja di Jepang, saya mengerti satu hal penting: kenyataan jauh lebih kompleks daripada cerita drama.

Bukan berarti buruk. Hanya saja, tidak seindah yang sering dibayangkan.

Disiplin Tinggi, Tapi Tekanan Juga Tinggi

Di Jepang, disiplin adalah standar, bukan kelebihan. Datang tepat waktu itu kewajiban. Kesalahan kecil bisa diingat lama. Tidak ada ruang untuk “nanti saja”.

Di drama, hal ini terlihat keren.

Di dunia nyata, ini berarti hidup selalu berada di bawah jam dan target.

Bekerja rapi, cepat, dan konsisten setiap hari bukan perkara mudah, terutama bagi orang asing yang masih belajar bahasa dan budaya.

Lembur Tidak Selalu Dipaksa, Tapi Terasa Wajib

Salah satu hal yang jarang dibahas adalah tekanan sosial. Atasan mungkin tidak memerintah lembur, tapi ketika semua masih bekerja dan kita pulang duluan, ada rasa tidak enak.

Bukan karena takut dimarahi, tapi karena:

Apakah saya terlihat tidak punya tanggung jawab?

Inilah budaya kerja Jepang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Hubungan Kerja Sopan, Tapi Berjarak

Orang Jepang sangat sopan. Senyum, bahasa halus, dan tata krama selalu dijaga. Namun jangan salah, sopan bukan berarti dekat.

Di tempat kerja:

  • Jarang berbagi masalah pribadi
  • Jarang bercanda berlebihan
  • Jarang benar-benar terbuka

Hubungan profesional dijaga dengan batas yang jelas. Bagi orang Indonesia yang terbiasa akrab, ini bisa terasa dingin.

Gaji Terasa Kecil Setelah Dipotong

Di atas kertas, gaji di Jepang terlihat besar. Tapi setelah dipotong:

  • Pajak penghasilan
  • Pajak daerah
  • Asuransi kesehatan
  • Pensiun

Sisa yang diterima sering membuat kaget, terutama di tahun pertama. Banyak orang baru sadar: hidup di Jepang mahal, meski teratur.

Bahasa Adalah Beban Mental

Drama jarang menunjukkan betapa melelahkannya berpikir dalam bahasa asing setiap hari.

Rapat, instruksi kerja, laporan, bahkan obrolan kecil—semuanya menuntut fokus ekstra.

Kadang lelah bukan karena kerja fisik, tapi karena otak tidak pernah benar-benar istirahat.

Orang Asing Harus Dua Kali Lebih Kuat

Tidak semua orang Jepang bersikap sama pada orang asing.

Sebagian sangat membantu, sebagian netral, sebagian lagi menjaga jarak.

Untuk dianggap “bisa dipercaya”, orang asing sering harus:

  • Bekerja lebih rajin
  • Lebih hati-hati
  • Lebih sabar

Ini bukan diskriminasi terang-terangan, tapi realita yang pelan-pelan terasa.

Tapi Jepang Mengajarkan Banyak Hal Berharga

Di balik semua tekanan, Jepang mengajarkan hal yang jarang diajarkan di sekolah:

  • Tanggung jawab
  • Konsistensi
  • Menghargai waktu
  • Menepati janji
  • Bekerja tanpa banyak alasan

Banyak orang bertahan bukan karena mudah, tapi karena tumbuh sebagai pribadi yang lebih kuat.

Penutup

Kerja di Jepang memang tidak seindah drama.

Namun bagi mereka yang bertahan, Jepang sering menjadi sekolah kehidupan.

Tidak semua cerita cocok diunggah ke media sosial.

Ada lelah yang dipendam, rindu yang ditahan, dan perjuangan yang hanya dimengerti oleh mereka yang menjalani.

Dan mungkin, itulah kenyataan kerja di Jepang yang jarang terlihat.