Tahun 2014, saya menginjakkan kaki di Jepang dengan satu koper, satu harapan, dan banyak bayangan indah tentang hidup di negeri maju. Waktu itu, YouTube belum seramai sekarang. Tidak banyak vlog yang membahas realita hidup di Jepang secara jujur. Yang terlihat hanya sisi rapi, bersih, dan tertib.
Setelah lebih dari satu dekade tinggal di sini, saya baru sadar: banyak hal tentang Jepang yang tidak pernah benar-benar diceritakan di YouTube.
Bukan karena ingin ditutupi, tapi karena tidak semua hal enak untuk diceritakan.
Jepang Itu Aman, Tapi Bisa Sangat Sepi
Satu hal yang sering dipuji dari Jepang adalah keamanannya. Dompet jatuh bisa kembali. Sepeda ditinggal tanpa dikunci masih ada. Anak kecil berangkat sekolah sendiri.
Semua itu benar.
Tapi yang jarang dibahas: rasa sepi yang pelan-pelan tumbuh.
Di Jepang, orang menghargai privasi sampai titik ekstrem. Tetangga jarang menyapa, bukan karena sombong, tapi karena sopan. Tidak ikut campur urusan orang lain dianggap etika. Lama-lama, kita hidup berdampingan tanpa benar-benar saling mengenal.
Untuk orang yang tumbuh dengan budaya Bali yang hangat dan komunal, ini bukan hal mudah.
Kerja Keras Itu Normal, Mengeluh Itu Tidak
Di YouTube, kerja di Jepang sering digambarkan disiplin dan profesional. Itu juga benar. Tapi jarang dibahas bahwa lelah di Jepang adalah hal yang dianggap biasa.
Datang tepat waktu bukan prestasi, tapi kewajiban. Pulang tepat waktu kadang dianggap aneh. Mengeluh soal capek bukan solusi, malah dianggap tidak dewasa.
Saya belajar satu hal penting:
Di Jepang, yang bertahan bukan yang paling pintar, tapi yang paling kuat secara mental.
Tidak Semua Orang Jepang Ramah Seperti di Drama
Drama Jepang sering menampilkan karakter yang lembut dan penuh perhatian. Kenyataannya, orang Jepang adalah manusia biasa. Ada yang baik, ada yang dingin, ada yang tidak peduli sama sekali.
Rasisme halus itu ada. Bukan dalam bentuk teriakan, tapi dalam jarak yang tidak terlihat. Cara bicara berubah, ekspresi wajah berbeda, atau keputusan yang terasa tidak adil tapi sulit dibuktikan.
Hal-hal seperti ini jarang masuk vlog, karena terlalu rumit untuk dijelaskan dalam 10 menit video.
Hidup di Jepang Mengajarkan Menahan, Bukan Meluapkan
Di Bali, emosi sering keluar lewat kata. Marah, sedih, senang—semua diekspresikan. Di Jepang, emosi lebih sering disimpan.
Saya belajar menahan:
- Rindu kampung
- Ingin pulang
- Lelah mental
- Merasa asing
Bukan karena tidak ingin berbagi, tapi karena tidak semua orang siap mendengar.
Sukses di Jepang Tidak Selalu Terlihat
YouTube sering menampilkan mobil bagus, rumah rapi, jalan-jalan ke luar negeri. Tapi sukses di Jepang sering kali tidak kelihatan.
Sukses itu:
- Bisa bertahan tanpa menyerah
- Bisa hidup mandiri
- Bisa mengirim uang ke keluarga
- Bisa membesarkan anak dengan nilai baik
- Bisa tetap waras di negara yang menuntut kesempurnaan
Jepang Mengubah Cara Saya Melihat Hidup
Setelah bertahun-tahun, Jepang mengubah saya.
Saya jadi lebih diam. Lebih menghargai waktu. Lebih bertanggung jawab. Tapi juga lebih sering bertanya pada diri sendiri: siapa saya sekarang?
Orang Bali yang tinggal di Jepang lama-lama hidup di dua dunia. Tidak sepenuhnya Jepang, tapi juga tidak sama seperti dulu di Bali.
Dan mungkin, itulah cerita yang jarang diceritakan di YouTube.
Penutup
Jepang bukan surga, tapi juga bukan neraka. Jepang adalah tempat belajar~tentang hidup, tentang diri sendiri, dan tentang arti bertahan.
Kalau kamu melihat orang Indonesia di Jepang tampak “baik-baik saja”, ingat satu hal:
yang paling berat sering kali tidak pernah diunggah.
